Kalau bicara soal pahlawan dari tanah Borneo, nama Tjilik Riwut itu ibarat bintang yang tak pernah padam. Sosok yang lahir dari hutan rimba Kalimantan ini bukan sekadar pejuang, tapi juga simbol bagaimana keberanian, kecintaan pada budaya, dan tekad bisa membawa seseorang jauh lebih tinggi daripada yang pernah ia bayangkan. Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional, Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah, sejarah Kalimantan—itulah kata kunci yang bahkan hari ini masih sering menggema ketika kisah hidupnya diceritakan.
Anak Hutan yang Mengelilingi Kalimantan
Sejak kecil, Tjilik — atau “orang hutan”, begitu ia menyebut dirinya dengan bangga — tumbuh dalam dekapan belantara. Bukan sekadar jalan-jalan santai, Versers. Beliau tiga kali mengelilingi Pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, menaiki perahu, dan rakit. Kalau anak sekarang bilangnya: “level petualangannya udah SSR+!”
Ia menamatkan sekolah dasar di kampung halaman, lalu merantau menuntut ilmu ke Purwakarta dan Bandung. Dari hutan ke kota, dari diam ke penuh mimpi — begitulah langkah hidupnya.
Dari Dayak Ngaju ke Pejuang Republik
Walaupun berasal dari Suku Dayak Ngaju, perjuangannya jauh melampaui batas-batas kesukuan. Ia duduk sebagai anggota KNIP dan ikut menggerakkan semangat kemerdekaan di Kalimantan. Pengakuan negara datang lama kemudian melalui:
“Menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Anakletus Tjilik Riwut atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa,” dikutip dari SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998.
Kutipan itu saksi nyata bahwa negeri ini tidak pernah lupa.
Aksi Payung Pertama dalam Sejarah TNI AU
Nah, ini bagian yang bikin bulu kuduk merinding, Versers. Tjilik Riwut memimpin pasukan udara MN 1001 dalam operasi penerjunan pertama dalam sejarah TNI-AU, pada 17 Oktober 1947. Ini bukan latihan. Ini sejarah. Bahkan tanggal itu kini dikenal sebagai Hari Pasukan Khas TNI AU.
“Operasi penerjunan yang dipimpin Tjilik Riwut menjadi tonggak lahirnya pasukan payung TNI AU dan menunjukkan kemampuan pertahanan udara Indonesia pada masa revolusi,” dikutip dalam catatan Ensiklopedia Pahlawan Nasional.
Bangga? Wajib.
Penghimpun Dayak Se-Kalimantan
Kisah epiknya belum habis. Pada 17 Desember 1946, di Yogyakarta, ia membawa amanat 185.000 rakyat, 142 suku Dayak, belasan kepala adat, panglima, patih, tumenggung—semuanya bersumpah setia kepada Republik.
“Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia,” dikutip dari Wikipedia.
Itu bukan sekadar kalimat, Versers. Itu penghormatan sejarah.
Gubernur, Penulis, dan Bapak Pembangunan Kalimantan Tengah
Setelah masa perang, dedikasinya tidak berhenti. Ia menjadi Wedana Sampit, Bupati Kotawaringin, lalu Gubernur Kalimantan Tengah dari 1958–1967. Ia membangun Palangka Raya dengan visi yang bahkan terasa jauh ke depan.
“Kalimantan bukan hanya masa lalu, tetapi masa depan yang luas, selama anak-anaknya menjaga persatuan, hutan, air, dan budayanya,” dikutip dari buku “Kalimantan Membangun” (1979), Tjilik menulis.
Kata-kata itu… timeless, Versers. Serius.
Pahlawan yang Juga Seorang Penulis
Jarang-jarang pahlawan pandai perang sekaligus pandai menulis. Dari “Makanan Dayak” sampai “Sejarah Kalimantan”, karya-karyanya masih jadi rujukan sampai hari ini.
Wafat di Hari Kemerdekaan
Takdir memang suka membuat cerita dramatis. Tjilik Riwut meninggal pada 17 Agustus 1987, tepat di hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Seolah ia kembali pulang pada hari yang sama ketika negeri ini dilahirkan.
Kini namanya diabadikan sebagai nama bandara dan jalan utama di Palangka Raya. Legenda yang tinggal jejak, tapi jejaknya tak akan hilang. (*)
