Pagi ini mampir di Toko Melayu Banjarbaru. Memang model tempat seperti itu menjadi incaran ketika pertama kali melintasi tak kala jogging pagi sebelumnya. Tiba sekitar pukul 08.30 wita, warung kopi yang terlatak di Jalan Junjung Buih, kawasan Komet Kota Banjarbaru ini punya cara sendiri buat bikin orang jatuh hati.
Kala itu, panas matahari terasa masih jinak, sesekali angin pagi turut menyapa, disambut aroma kopi dari balik pintu. Menuju meja kasir, suasana mulai terasa hidup, dinding hijau berpadu keramik putik bercorak kotak-kotak menjadi saksi ketika wanita muda di belakang meja kasir menyapa ramah dengan obrolan ringan khasnya pelayan kopi.
“Best seller nya apa, ka?’ sahutku. Dengan santai dijawab, dengan pilihan kopi hitam atau kopi susu. Mata ku sejurus membaca Kopi Butter terpajang pada daftar menu sebelah kanan. Bermula dari situ akhirnya mendarat di meja secangkir kopi butter, roti kaya melayu, dan kopi tarik es.

Duduk di bagian depan, menghadap jalan, rasanya pas betul untuk memulai hari. Sambil menyeruput kopi, sinar matahari pagi ikut menemani. Kopi butter hadir dengan karakter rasa yang tebal kopi, gurih, berbalut kreami, dan hangat di lidah (sengaja tak diaduk, karena tadi kelupaan pesan tanpa gula), “ah mudah masuk”, istilah anak kopi zaman now.
Bukan cuma soal rasa, Toko Kopi Melayu Banjarbaru terasa seperti ruang singgah yang jujur. Tak berisik, tak memaksa gaya, tapi justru nyaman dengan caranya sendiri. Cocok untuk yang mau ngopi santai, diskusi ringan, atau sekadar duduk diam menikmati pagi.
Kalau kata orang Melayu, pelan-pelan asal sampai. Dan di sini, kopi datang bukan untuk diburu-buru. Ia dinikmati, satu seruput demi satu seruput, sambil membiarkan pagi berjalan apa adanya. (Abe)