Kalau selama ini kamu cuma lihat politik dari timeline medsos, siap-siap tertampar halus oleh pesan mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Dalam acara “Jakarta Future Festival” di Taman Ismail Marzuki, Minggu (15/6/2025) lalu, Anies tegas bilang kalo anak muda jangan cuma jadi komentator—tapi harus turun gelanggang.
Politik Tak Bisa Diisi Orang Asal-Asalan
Di depan para peserta festival, Anies membuka dengan pengingat penting bahwa generasi muda adalah harapan rakyat. Ia ingin dunia politik diisi oleh mereka yang lolos meritokrasi, bukan sekadar mereka yang “punya jalan pintas”.
“Teman-teman ini adalah harapan dari seluruh rakyat. Kita menginginkan mereka yang masuk ke politik adalah mereka yang lolos meritokrasi. Cuma kan tidak selalu kenyataannya begitu bukan?” bilang pria yang sempat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Kerja tahun 2014.
Seolah Anies mau bilang, “Kalau kalian bagus, ya masuklah. Jangan kasihin kursi ke yang tak layak.”
Anies kemudian menegur lembut anak muda yang terlalu sering protes tapi tak mau ikut membenahi sistem.
“Kalau saya usul menghadapi seperti ini jangan mengeluh saja. Tapi, mereka-mereka yang punya prestasi, yang punya karya, jangan menjauhi wilayah politik, terlibat lah,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa menunggu politik “beres dulu” sebelum ikut berjuang adalah kesalahan besar.
“Belum tentu menang, tapi masuk dan kita itu jangan begini ‘Saya kepengin sistemnya udah beres dulu baru saya mau ikut’, nggak akan terjadi perubahan, perubahan itu hanya terjadi kalau mau berjuang di dalamnya,” ungkap Anies.
Versers, ini seperti kata orang Melayu: “kalau takut ombak, jangan berumah di tepi laut.” Mau perubahan? Ya harus turun ke gelanggang.
Demokrasi + Anak Muda + Teknologi = Kekuatan Baru
Anies pun menyenggol soal teknologi. Menurutnya, kemajuan digital hari ini justru membuat generasi muda punya kesempatan besar terlibat di ruang demokrasi.
“Jadi saya usul pada teman-teman yang peduli atas pengambilan kebijakan di Indonesia, jangan jauhi wilayah politik, terlibat. Anak muda hari ini punya ruang keterlibatan luar biasa. Saya ibaratkan seperti segitiga teman-teman, demokrasi, anak muda, teknologi. Itu 3 hal itu membuat anak muda bisa partisipasi luar biasa,” tandasnya.
Bayangkan, Versers: tiga kekuatan itu—demokrasi, anak muda, dan teknologi—kalau bersatu, bisa mengubah wajah politik Indonesia dalam tempo singkat.
Versers, Masih Mau Jadi Penonton? Atau Pemain?
Pesan Anies ini jelas: generasi muda jangan cuma jadi keyboard warrior. Politik butuh energi baru, butuh pikiran jernih, dan butuh keberanian. Dan semua itu ada pada kalian.
Jadi, Versers…
Masih mau mengeluh di DM, atau mulai melangkah di ruang politik? (*)
