Pernahkah kalian menyaksikan tarian tradisional yang nggak cuma menghibur, tapi juga penuh makna? Kalau belum, kalian harus banget datang ke Festival Budaya Hudoq Tahariq Dayak Bahau Busang yang berlangsung di Lapangan Dusun Loa Gagak, Kutai Kartanegara, pada Sabtu 1 November 2025 kemarin. Festival yang berlangsung hingga 19 November 2025 ini bukan cuma sekadar hiburan biasa, loh, tapi juga merupakan ritual adat yang sakral untuk suku Dayak Bahau Busang.
Saat kalian memasuki area festival, suara tabuhan gong dan musik tradisional langsung mengiringi langkah para penari bertopeng kayu dan berbusana daun pisang. Suasana magis ini menandai dimulainya upacara syukur masyarakat Dayak Bahau kepada Sang Pencipta setelah selesai masa tanam padi. Bukan sekadar tarian, tapi juga bentuk komunikasi dengan roh leluhur!
Ritual Sakral Sebelum Tarian Dimulai
Ritual dimulai dengan prosesi pemberian sesajen oleh Kepala Adat Bahau Busang, Arnoldus Jansen Kuleh. Sesajen itu dipersembahkan kepada roh Hudoq yang diyakini akan membawa kabar baik terkait masa tanam padi. Arnoldus menjelaskan, “Dalam dialog itu kita tanyakan, ada membawa kabar apa. Hujok Galung misalnya, bawa apa dari Aporagan,” ungkapnya, menjelaskan makna spiritual dalam ritual tersebut.
Setelah itu, warga dan para penari Hudoq menari bersama, merayakan kebersamaan dan memberikan penghormatan kepada alam. Bahkan, anak-anak pun tak mau ketinggalan! Mereka turut mengenakan kostum daun pisang dan topeng kayu, sebagai bukti bahwa tradisi ini masih dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Antusiasme Generasi Muda dalam Menjaga Tradisi
Ketua Persekutuan Adat Dayak Kalimantan Timur, Syaharie Jaang, mengungkapkan kebanggaannya terhadap acara ini. “Kegiatan ini selalu dilakukan setiap kali ada kelompok yang menanam padi. Syukur alhamdulillah, meskipun sibuk, saudara-saudara kita di Samarinda dan Kutai Kartanegara tetap menjaga acara ini,” kata Jaang.
Rangkaian festival Hudoq Tahariq ini akan terus berlanjut dengan Hudoq Kawit dan ditutup oleh Hudoq Paqow, yang menjadi bagian dari siklus budaya Dayak Bahau. Tak hanya pria, ibu-ibu dan remaja putri juga ikut meramaikan dengan menampilkan tarian khas mereka yang memukau!
“Suasananya ramai banget, rasanya senang. Banyak generasi muda yang ikut serta, jadi nggak cuma yang tua, anak-anak juga antusias ikut jadi Hudoq!” ujar salah satu warga yang hadir sembari melontarkan senyuman lebar.
Melestarikan Kearifan Lokal yang Belum Terpengaruh Modernitas
Kepala Desa Loa Duri Kota, Muhammad Rizali, juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan festival ini. “Kita ingin memperkenalkan bahwa di Kecamatan Loa Kulu ini ada kearifan lokal yang masih alami, belum terpengaruh budaya modern. Sekaligus kita mau mempromosikan Desa Loa Kulu Kota agar lebih dikenal,” ujarnya.
Menurut Rizali, festival ini bukan hanya tentang merayakan tradisi, tapi juga tentang menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernitas.
Hudoq: Tarian Penuh Makna dan Pesan Leluhur
Bagi masyarakat Dayak Bahau Busang, tarian Hudoq bukan sekadar pertunjukan bertopeng biasa. Setiap gerakan yang dilakukan oleh penari memiliki makna mendalam. Gerakan dari kiri, kanan, hingga maju ke depan, semuanya melambangkan penghormatan dan doa untuk kesejahteraan kampung serta keharmonisan dengan alam.
Hudoq Tahariq bukan hanya tentang merayakan hasil bumi, tapi juga mengingatkan kita tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Festival ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya yang dijaga oleh masyarakat Dayak Bahau tetap hidup dan diteruskan kepada generasi penerus.
Jadi, Versers, festival ini bukan hanya acara yang seru untuk dihadiri, tetapi juga ajang untuk belajar dan menghargai tradisi yang penuh makna. Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan sendiri kekuatan budaya Dayak Bahau Busang, yang kaya akan nilai luhur dan warisan leluhur. (*)

