Hei, Versers!

Siapa sangka pemikiran Tan Malaka yang lahir puluhan tahun lalu kembali menggema di tengah generasi muda Samarinda? Di era dominasi AI dan media sosial, nama Tan Malaka, sang penulis Materialisme, Dialektika, Logika (Madilog), justru jadi bahan diskusi hangat dalam Dialog Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Aula Dispora Kalimantan Timur (Kaltim), beberapa waktu lalu.

Acara yang dimoderatori oleh Rusdianto, Founder Sumbu Tengah, ini terasa hidup dan reflektif. Menghadirkan para pemikir lintas bidang — mulai dari Muhammad Faisal (Plt Kepala Dispora Kaltim) sebagai keynote speaker, sejarawan publik Muhammad Sarip, musisi dan komposer Novi Umar, content creator Intan Nabila, hingga Founder & Festival Director “Kembali Pulang” Antares Wardana. Dua aktivis perempuan, Anisa Tri Anugrah (KOHATI HMI) dan Julaihah (KOPRI PMII), juga turut menambah warna dalam forum inspiratif itu.

Madilog dan Logika Mistika di Era Digital

Salah satu momen paling menarik datang dari Intan Nabila, content creator sekaligus mahasiswa Universitas Mulawarman. Ia membedah Madilog dengan gaya yang renyah namun tetap tajam.

“Pada masa kini, mistik berkembang dalam kemasan yang baru. Misalnya teori konspirasi yang berlandaskan cocoklogi,” ucap Intan yang disambut tawa kecil para peserta.

Namun Intan tak berhenti di situ. “Buku Madilog itu jahat! Buku-buku yang lain aku bisa selesai membacanya dalam seminggu atau tiga hari. Tapi buku Tan Malaka ini aku perlu tiga bulan baru bisa selesai, karena bahasanya yang kaku dan ejaan yang jadul,” sambungnya dengan jujur.

Dari pernyataan itu kita bisa menggambarkan satu hal penting, bahwa semangat membaca dan berpikir kritis di kalangan muda masih hidup — hanya butuh pendekatan yang segar dan relevan.

Sejarawan: Jangan Glorifikasi, Tetap Kritis

Dalam sesi berikutnya, Muhammad Sarip, sejarawan publik Samarinda, mengingatkan agar semangat Sumpah Pemuda tak berhenti di seremoni dan jargon.

“Forum ini tidak bermaksud mengglorifikasi Malaka. Baik dari figur Tan Malaka maupun sebuah entitas project yang menyandang nama Malaka. Karena kita harus tetap kritis kepada siapapun dan tidak boleh kultus individu atau sekadar FOMO (Fear of Missing Out),” ujar Sarip, penulis buku Histori Kutai.

Pesan itu menjadi pengingat agar generasi muda tak hanya mengagumi tokoh, tapi juga meneladani cara berpikir dan keberanian melawan arus.

Dari Musik hingga Mental Health

Semangat reflektif juga datang dari Novi Umar, musisi dan komposer asal Samarinda. “Impian bisa diraih asalkan dengan tekad dan usaha yang kuat,” tegasnya.

Sementara Antares Wardana, anak muda berusia 20 tahun yang sukses mendirikan Festival Kembali Pulang, berbagi kisah personal di balik kiprahnya.

“Berdasarkan pengalaman tragis yang menimpa sahabat saya, maka saya ingin membantu generasi muda yang terpapar mental health supaya bisa tetap bertahan,” tutur Antares yang disambut haru peserta.

Dari musik hingga kesehatan mental, dialog ini menjadi ruang lintas gagasan — di mana semangat Tan Malaka bertemu dengan isu-isu kekinian generasi Z.

Apresiasi untuk Generasi Cerdas

Sebagai moderator, Rusdianto menutup dialog dengan apresiasi tulus kepada peserta — mayoritas siswa-siswi SMA Negeri 10 Samarinda.
“Saya sengaja mendekati setiap penanya untuk mengecek apa yang dia lihat di layar HP-nya, dan ternyata hanya catatan, bukan aplikasi AI. Mereka memang anak-anak yang cerdas,” tandas Rusdi.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan AI, kata Rusdi, kemampuan berpikir kritis anak muda Samarinda adalah bukti bahwa logika Tan Malaka masih berdenyut — kini dalam tubuh generasi baru. (*)

- A word from our sposor -

spot_img

Tan Malaka Bangkit Lagi! Anak Muda Samarinda Kupas Logika Mistika dan Feodalisme