Pernah lihat perempuan duduk santai di kafe, sambil menyesap pod vape berwarna cerah dan menghembuskan asap tipis? Pemandangan itu kini bukan hal aneh lagi di Samarinda. Pod vape, perempuan Samarinda, gaya hidup, generasi Z, dan rokok elektrik kini jadi empat kata yang saling berkelindan dalam satu tren urban yang sedang naik daun.
Sabtu sore di Coffee & Co. Soul, City Centrum Samarinda, suasananya tenang, hanya beberapa meja terisi. Seorang perempuan berusia 30-an, mengenakan pakaian kasual, duduk di dekat pintu masuk. Dari tangannya, sebuah pod merah jambu berkilau—setiap embusan asapnya seperti melukis kisah baru tentang kebebasan dan gaya hidup modern.
Namanya Gina, 33 tahun. Ia mulai menggunakan pod vape sejak 2021. Awalnya cuma iseng, tapi lama-lama jadi kebiasaan.
“Tarikkannya berat aja,” ucap Gina sambil tersenyum, saat diwawancara di Samarinda.
Baginya, pod lebih hemat dari rokok tembakau, lebih ringan dari vape besar, dan yang paling penting—membantu dirinya berhenti dari ketergantungan rokok biasa. Tapi tak semua tempat nyaman untuk menyalakan pod. “Kalau lagi kumpul sama keluarga suami, aku sembunyi-sembunyi. Biar tetap sopan aja,” katanya jujur.
Meski sadar rokok elektrik punya efek negatif, ibu dua anak ini mengaku sulit lepas. “Sekarang bisa dua botol liquid ukuran 30 ml sebulan,” tambahnya pelan.
Ketika “FOMO” Jadi Alasan Pertama Nge-Pod
Cerita lain datang dari Elda, 39 tahun. Ia tertawa kecil saat menyebut alasan pertama kali menyentuh pod vape: FOMO, alias Fear of Missing Out.
“Awalnya cuma karena takut ketinggalan tren. Lama-lama malah asik,” ujarnya santai.
Kini, empat tahun sudah ia setia pada rokok elektrik mungil itu. Tapi aturan tetap ada: “Di rumah nggak, pernah ditegur anak,” katanya.
Elda hanya nge-pod saat nongkrong atau di tempat hiburan bareng teman dan suaminya. Tapi setelah sempat kambuh asma, kebiasaan itu mulai dibatasi.
“Bukan teman sepermainan sih yang negur, tapi sadar aja, udah dikurang-kurangin,” tuturnya, dikutip dari percakapan di Loa Bakung, Samarinda.
Cinta, Mantan, dan Asap Manis di Udara
Lalu ada Chintia, 25 tahun, seorang jurnalis muda di Samarinda. Awalnya ia tak pernah terpikir untuk memakai pod vape—sampai mantan pacarnya memberi hadiah.
“Sejak dikasih pod, aku jadi pemakai aktif. Awalnya ikut, lama-lama suka,” ceritanya.
Baginya, memakai pod bukan hal tabu. “Di tongkrongan semua open-minded. Jadi nggak sembunyi-sembunyi,” katanya bangga. Tapi di rumah, Chintia berhenti menyalakannya. “Nge-pod sendiri itu nggak asik,” ujarnya sambil tertawa.
Mamanya pernah memperingatkan soal dampak kesehatan, tapi baginya, pod masih jadi stress release.
“Masih menikmati dan stress rilis aja sih,” katanya santai.
Psikolog Bicara: Antara Tren, Tekanan, dan Gaya Hidup
Menurut Aulia Suhesty, M.Psi, psikolog sekaligus Founder Prima Solutions Samarinda, fenomena ini bukan semata soal gaya, tapi juga psikologis.
“Konformitas, ingin sama gitu ya, bisa terhubung dengan teman-temannya. Itu juga gaya hidup,” ujarnya saat ditemui di Jalan DI Panjaitan, Sungai Pinang, dikutip dari wawancara (20/08).
Aulia menjelaskan, pengaruh influencer di media sosial juga besar. Saat melihat wanita nge-pod dan tampak percaya diri, hal itu memberi legitimasi sosial bahwa perilaku itu wajar. “Apalagi nikotin dalam pod bisa memberi efek tenang sementara,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan ini umumnya muncul di kalangan perempuan dengan ekonomi menengah ke atas, usia 25–35 tahun.
“Yang penting, sebelum melakukan sesuatu, pikirkan dulu risikonya dan konsekuensinya. Jangan sampai terjebak dalam adiksi baru,” tegasnya sambil tersenyum.
Tren, Identitas, dan Pilihan Personal
Bagi sebagian perempuan Samarinda, pod vape bukan sekadar alat hisap, tapi simbol identitas. Sebuah bentuk kebebasan untuk memilih cara bersantai, berekspresi, dan mungkin—melawan stereotip lama tentang perempuan dan rokok.
Namun seperti asap yang hilang di udara, tren ini pun bisa berubah arah kapan saja. Dan di balik setiap tarikan pod, tersimpan cerita-cerita kecil tentang pencarian diri, kenyamanan, dan batas antara gaya hidup serta kesehatan. (*)

