Smart Dryer System, talas beneng, petani Samboja, teknologi IoT, dan Polnes Politani mungkin terdengar kayak topik berat. Tapi percayalah, kisah ini sebenarnya tentang satu hal: bagaimana teknologi bikin hidup petani lebih ringan dan lebih cuan, hiks!
Di Desa Bukit Raya, Samboja, para petani dari Kelompok Tani Trimas punya cerita yang bercampur antara harapan dan kegelisahan. Selama ini, mereka menggantungkan hidup dari daun talas beneng, komoditas ekspor yang nilainya menggiurkan. Tapi ya, apa daya… kalau musim hujan datang, daun yang sudah dirajang bisa gagal kering dan terbuang macam hati yang tak dianggap, Versers.
Di tengah kegalauan itu, muncul tim dosen dari Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi Kaltim—Polnes dan Politani Samarinda. Mereka datang bukan cuma bawa semangat, tapi juga riset terapan yang didukung LPDP dan Kemendiktisaintek. Tim ini digawangi oleh nama-nama mentereng macam Surahman, PhD, Said Keliwar, M.Sc, Dr. Prapdopo, Ani Fatmawati, M.T, Adnan Putra Pratama, M.Sc, dan Pandhu Rochman Suosa, M.Sc.
Mereka memperkenalkan satu gebrakan yakni Smart Dryer System, teknologi pengeringan modern berbentuk kubah ala efek rumah kaca, dipadu dengan sistem IoT untuk mengatur suhu, kelembaban, hingga sensor oksigen. Dengan kata lain, talas beneng tak lagi bergantung pada matahari semata. Ala-ala teknologi masa depan gitu lah, Versers.
“Kami melihat potensi ekonomi yang cukup besar dari usaha daun talas beneng ini karena bernilai tinggi komoditi ekspor tetapi ada satu hambatan kritis di proses pascapanen,yakni pengeringan,” ungkap Surahman, PhD.
Tak cuma Surahman yang excited. Ketua Kelompok Tani Trimas, Edi Suwignyo, pun merasa teknologi ini ibarat cahaya terang di tengah gerimis.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim dosen polnes dan politani samarinda serta pemerintah. Selama ini, kalau sudah mendung apalagi hujan, kami was-was. Talas beneng yang sudah dirajang bisa-bisa gagal kering dan terbuang,” bilangnya Edi Suwignyo.
Teknologi kubah polikarbonat ini bukan main-main. Suhu di dalamnya bisa meningkat drastis, sirkulasi udara dibantu kipas, dan yang paling penting adalah daun talas terlindungi dari debu, serangga, UV, dan drama-drama lain yang bikin kualitas turun. Potensi kerugian yang biasanya bisa mencapai 30–50%, kini bisa ditekan sampai 55%. Mantap betul, kan?

Di acara diseminasi 1 Desember 2025 kemarin, para petani melihat langsung bagaimana Smart Dryer System bekerja. Dan ya, buat pelaku usaha yang butuh kualitas ekspor, teknologi ini ibarat senjata rahasia baru.
“Teknologi riset terapan berbasis pengering tenaga matahari ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh petani dan pelaku usaha berbahan baku pertanian dan lainnya, untuk menghasilkan produk berkualitas yang bisa dipasarkan hingga luar daerah dan ekspor,” tegas Wakil Direktur Humas dan Kerjasama Polnes, Said Keliwar, M.Sc,.
Bahkan Soib, salah satu pengurus kelompok tani, bersaksi langsung soal bedanya hasil pengeringan modern ini.
“Penggunaan smart dyrer system sangat membantu dalam mengeringkan daun talas beneng. Hasilnya merata hingga ke bagian dalam, talas beneng menjadi kuning segar, tidak berjamur, dan lebih higienis serta terhindar dari serangga,” terang Soib.
Sementara itu, Surahman kembali berseloroh ketika menunjukkan aroma talas yang keluar dari kubah.
“Ketika pintu dome dibuka, aroma sedap talas beneng langsung terasa, mantap!” sontak Surahman, PhD sambil senyum tipis.
Dari sisi teknis, anggota tim Adnan dan Pandhu menjelaskan bahwa proses pengeringan kini cuma butuh kurang dari tiga hari, dengan tingkat kekeringan 90–100%. Zero waste, kualitas konsisten, dan siap ekspor. Macam teknologi luar negeri, tapi karya anak negeri, Versers.
Dengan hadirnya Smart Dryer System, para petani Bukit Raya kini tak lagi dihantui mendung dan hujan. Talas beneng mereka akhirnya bisa naik kelas—lebih bersih, lebih cepat, lebih higienis, dan tentu saja… lebih cuan.
Dan kata orang melayu, “Kalau sudah elok teknologinya, jangan disia-siakan. Rezeki jangan ditolak, peluang jangan dilepaskan,”. (*)

