Hei, Versers!

Ada kabar super keren nih! Pernahkah kalian bayangin jadi pembentang bendera Merah Putih di Istana Negara, Jakarta? Yap, kali ini, seorang remaja asal Samarinda, El-Rayyi Mujahid Faqih, yang baru berusia 17 tahun, berhasil mencatatkan sejarah luar biasa! Rayyi jadi pembentang bendera Merah Putih pertama dari Kaltim dalam upacara HUT Kemerdekaan ke-80 di Istana Negara, pada Minggu, 17 Agustus 2025. Keren kan?

Suasana di Istana Negara itu bener-bener penuh haru, apalagi buat Amir Mahmud (43) dan Yuyun Rahyuni (40), orangtua Rayyi, yang duduk di barisan belakang. Mereka nggak bisa menahan air mata melihat anak mereka melaksanakan tugas mulia itu. Sejak kecil, Rayyi memang dikenal aktif dan penuh semangat, tapi siapa sangka ia bisa jadi bagian dari sejarah besar seperti ini?

Sesaat setelah tugas mulia itu selesai, Rayyi langsung mendatangi orangtuanya di sudut ruangan, mencium tangan, dan memberi pelukan hangat. Meski hanya sebentar, itu adalah momen yang tak terlupakan bagi keluarga mereka.

Yuyun, ibu Rayyi, bercerita dengan mata berbinar, “Saya bilang ke Rayyi, kalau nggak terpilih nggak apa-apa. Tapi dia malah lolos ke Jakarta, dan alhamdulillah, jadi pembentang bendera!”

Ungkapan Yuyun ini menunjukkan betapa besarnya perjuangan Rayyi, yang harus bersaing dengan ratusan siswa dari seluruh Indonesia, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga akhirnya terpilih untuk mewakili Kaltim di Jakarta.

Rayyi sendiri sempat merasa gugup saat pertama kali mendapat tugas besar itu. “Katanya deg-degan, dia berdoa terus selama tugas itu, baca Bismillah,” kata Yuyun mengenang.

Proses seleksi memang tak mudah. Rayyi harus melewati beberapa tahap seleksi yang ketat. Dari 300 peserta di seleksi kota, ia lolos ke tingkat provinsi, bersaing dengan 60 siswa dari berbagai kabupaten/kota. Di Jakarta, seleksi ketat lagi dilakukan, dan akhirnya Rayyi lolos bersama Putri Nur Azizah dari SMK Putra Bangsa Bontang.

“Waktu itu, Rayyi bilang, tugasnya biasa aja, cuma kayak di asrama yang disiplin banget,” ujar Yuyun mengenang pesan dari anaknya.

Meski komunikasi terputus selama sebulan penuh di Jakarta karena aturan, Rayyi selalu menenangkan ibunya lewat pesan singkat, bilang kalau dia baik-baik saja. “Doain ya mamake,” begitu Rayyi selalu mengingatkan ibunya.

Rayyi bukan cuma jago di pelajaran, loh! Dia juga aktif di berbagai kegiatan, mulai dari OSIS, Pramuka, hingga bela diri Kempo. Semua itu melatih disiplin, kepemimpinan, dan tanggung jawab, yang akhirnya membantunya menjalankan tugas sebagai pembentang bendera dengan sempurna.

Kepala SMK Kehutanan Negeri Samarinda, Mukhamad Ari Hidayanto, juga punya peran penting dalam perjalanan Rayyi ke Jakarta. Dan jangan lupa, Ramlan, gurunya, yang pertama kali menyarankan Rayyi ikut seleksi Paskibraka. “Rayyi selalu berterima kasih sama Pak Ramlan,” kata Yuyun.

Tak hanya keluarga, sekolah juga ikut memberikan dukungan penuh, bahkan ada acara nobar (nonton bareng) saat Rayyi terpilih sebagai pembentang bendera. Semua warga SMK Kehutanan Negeri Samarinda ikut merayakan pencapaian Rayyi. (*)

- A word from our sposor -

spot_img

Siswa Samarinda Jadi Pembentang Bendera Merah Putih di Istana Negara, Ini Kisahnya