SpeakUp by: Eka Aneba

Hai, Versers!

Di negeri yang katanya kaya rempah ini, ada satu fakta pahit yang sudah kita telan bersama, harga beras naik-turun seperti sinyal Wi-Fi di pedalaman. Saat dapur mulai kosong dan dompet makin tipis, rakyat menemukan solusi sederhana, hangat, dan kenyal — pentol.

Ya, pentol. Si bulat misterius yang entah sejak kapan berubah dari sekadar camilan jadi penyambung hidup berjuta orang.
Ia hadir di setiap sudut negeri — dari pantai hingga puncak gunung. Kadang disambut dengan teriakan khas, “Pentolnya, Kak! Masih anget!”
Dan entah bagaimana, makanan kerakyatan ini bisa menembus tempat di mana bahkan sinyal saja menyerah.

Di saat banyak program ekonomi hanya berakhir di seminar atau papan reklame, pentol justru bergerak nyata. Ia keliling kampung, melintasi jalan rusak, menembus gang sempit, membawa aroma perjuangan.
Rakyat percaya pada pentol — mungkin bahkan lebih dari mereka percaya pada janji kampanye.

Ekonomi Bulat yang Tak Pernah Tidur

Data dari berbagai Dinas Perdagangan menunjukkan, rata-rata penjualnya bisa meraup omzet Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari.
Kalikan sebulan, mereka sudah melampaui UMR.
Kalikan lagi dengan 100 ribu gerobak di seluruh Indonesia — potensi perputaran uangnya bisa tembus Rp3 triliun per tahun.
Tanpa APBN, tanpa investor asing, tanpa unicorn.

Inilah ekonomi sejati yakni produksi, distribusi, konsumsi — semuanya dikendalikan rakyat.
Modalnya? Tepung, sedikit daging (kadang cukup niat), bumbu, dan keberanian.
Inovasinya tak kalah gila ada berbagai jenis varian mulai dari ada pentol keju, mercon, dibakar, hingga jenis vegan pun ada — yang entah kenapa tetap disebut pentol.

Dari Jalanan ke Dunia

Lucunya, hingga kini belum ada kementerian yang menganggap pentol sebagai komoditas strategis nasional.
Padahal, bayangkan kalau kita bungkus vakum, beri label “Indonesian Chewy Ball Snack – handcrafted by coastal moms,” lalu jual di supermarket Jepang atau Korea seharga Rp50 ribu per 6 butir.
Pasti laku keras. Karena yang dijual bukan cuma rasa, tapi cerita perjuangan rakyat.

Kita terlalu sibuk menunggu unicorn, padahal pentol sudah lama jadi kuda liar ekonomi rakyat — berlari tanpa aplikasi, tapi terus menghasilkan.

Revolusi Pentol Nasional

Daripada sibuk bikin gerakan ekonomi yang hanya viral di seminar, kenapa tidak mulai dari yang nyata?
Bantu UMKM pentol dengan akses permodalan, legalisasi PIRT, dan pelatihan digital marketing.
Karena pentol bukan cuma soal kenyang, tapi soal harga diri ekonomi rakyat.

Selama perut masih lapar dan kantong masih bolong, pentol akan terus jadi penyambung hidup bangsa ini.
Jadi, lain kali saat tukang pentol lewat, jangan cuma beli satu tusuk.
Anggap itu investasi sosialmu. Sekaligus bentuk kecil dari revolusi ekonomi versi rakyat.

Dan satu hal lagi, Versers, belum pernah ada berita orang keracunan pentol.
Itu fakta, bukan sindiran.

(Teks disesuaikan dengan gaya redaksi)

- A word from our sposor -

spot_img

Pentol: Jalan Tol Ekonomi Rakyat dari Pinggir Jalan ke Masa Depan