Hei, Versers!

Pernah nggak sih kamu dengar istilah, “kalau mau besar, ya harus berani rugi dulu”? Nah, kayaknya pepatah itu sedang jadi mantra baru bagi para raksasa teknologi dunia. Bayangkan saja, Meta, Microsoft, dan Google sedang bakar uang hampir $78 miliar cuma dalam satu kuartal — semua demi satu hal. Kecerdasan buatan alias AI.

Tapi tunggu dulu, Versers. Uang segitu bukan buat beli pesawat luar angkasa atau stadion megah. Dana itu mengalir ke pusat data raksasa, GPU supermahal, dan server berteknologi tinggi yang jadi “otak” bagi mesin AI masa depan. Mereka sedang membangun “pabrik otak digital” terbesar di dunia.

Masalahnya, seperti kata pepatah lama, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin mengguncang. Para investor mulai gelisah. Saham Meta dan Microsoft langsung merosot setelah laporan keuangan terakhir keluar. Meta bahkan mengakui, pengeluaran mereka di tahun depan “akan jauh lebih besar” — iya, “jauh lebih besar,” Versers!

Namun di sisi lain, Google justru sukses bikin investor tersenyum. Lewat AI Gemini yang kini punya 650 juta pengguna aktif bulanan, pendapatan dari unit Google Cloud melonjak 34% hingga tembus $15,2 miliar. CFO mereka, Anat Ashkenazi, bahkan optimistis pengeluaran tahun ini bisa tembus $93 miliar, lebih besar dari proyeksi awal.

Kalau kata analis Wall Street, ini sudah mirip perang senjata digital. Siapa yang punya pusat data lebih cepat dan otak mesin lebih pintar, dialah penguasa masa depan.

Tapi nggak semua berjalan mulus. Di Meta, CEO Mark Zuckerberg sedang berjudi besar. Ia yakin bahwa AI akan jadi mesin penghasil iklan paling efisien di dunia. “Kalau sampai kita membangun terlalu banyak, ya mungkin daya komputasi itu bisa kita jual ke perusahaan lain,” ujarnya santai mengutip bloomberg.com.

Namun di balik nada optimis itu, divisi Reality Labs Meta – pembuat kacamata pintar AI dan wearable futuristik – malah rugi $4,4 miliar di kuartal ketiga, dengan pendapatan cuma $470 juta. Zuckerberg masih yakin, ucapnya “Ancaman terbesar bukan karena terlalu banyak berinvestasi, tapi karena kurang berani.”

Jadi, Versers, inilah momen di mana dunia teknologi sedang adu nyali. Mereka bukan lagi sekadar bikin aplikasi, tapi membangun fondasi peradaban digital baru. AI bukan cuma soal robot dan chatbot, tapi soal siapa yang mengendalikan masa depan informasi, data, dan… ya, mungkin, dompet kita juga.

Satu hal pasti, kalau investasi gila-gilaan ini berhasil, kita semua akan jadi saksi lahirnya revolusi baru. Tapi kalau gagal? Mungkin sejarah akan mencatatnya sebagai “gelembung AI terbesar abad ini.” (*)

- A word from our sposor -

spot_img

Miliaran Dolar Dibakar! Raksasa Teknologi Bertaruh Hidup-Mati di AI