Di dunia yang kian terhubung oleh algoritma, musik tetap menjadi bahasa paling purba yang dimiliki manusia. Ia lahir dari emosi, luka, cinta, kehilangan, dan pencarian makna — hal-hal yang selama ini terasa mustahil dimengerti oleh mesin. Namun tahun 2025 menjadi babak baru dalam sejarah, ketika label Universal Music Group (UMG) perusahaan musik global asal Santa Monica, California, Amerika Serikat sana, rumah bagi Taylor Swift, Billie Eilish, dan Elton John, memilih untuk tidak lagi melawan kecerdasan buatan (AI), melainkan berdamai dan berkolaborasi dengannya.
Langkah itu diwujudkan melalui kesepakatan dengan Udio, sebuah startup musik berbasis AI yang sebelumnya digugat oleh Universal karena dianggap melatih modelnya menggunakan lagu-lagu berhak cipta. Kini, keduanya menandatangani perjanjian bersejarah: penyelesaian gugatan dan peluncuran platform pembuatan serta streaming musik berbasis AI yang etis dan berlisensi resmi.
“Kesepakatan ini menunjukkan komitmen kami untuk melakukan hal yang benar bagi artis dan penulis lagu kami,” ujar Lucian Grainge, CEO Universal Music menukil bloomberg.com/ “Dengan bekerja sama dengan Udio, kami ingin membangun ekosistem AI komersial yang sehat — di mana artis, penulis lagu, perusahaan musik, dan perusahaan teknologi bisa berkembang bersama,” timpalnya.
Dari Konflik ke Kolaborasi
Sebelumnya, hubungan antara industri musik dan AI diwarnai ketegangan. Startup seperti Suno dan Udio dituduh mencuri ribuan rekaman suara artis besar untuk melatih model generatif mereka. Para musisi resah — bukan hanya karena isu royalti, tapi karena muncul pertanyaan eksistensial: Apakah musik buatan mesin masih punya jiwa?
Namun seiring waktu, banyak yang mulai melihat sisi lain dari teknologi ini. AI, ternyata, bukan ancaman — melainkan alat bantu untuk memperluas imajinasi manusia. Udio dan Universal melihat peluang tersebut, jika AI dilatih dengan data yang sah dan etika yang dijaga, ia bisa menjadi instrumen baru yang memperkaya, bukan menggantikan.
Platform baru yang akan diluncurkan tahun depan itu menjanjikan hal unik: pengguna bisa menciptakan musik bersama mesin, menyesuaikan elemen, menulis melodi, dan mengubah aransemen secara real time — sambil memastikan semua konten berasal dari lisensi legal. Tak ada plagiarisme, tak ada pelanggaran hak cipta.
Dan yang paling penting, para musisi tetap mendapat royalti.
Saat Algoritma Menyentuh Emosi
Versers coba kita bayangkan nanti pas berada di studio masa depan, mungkin suatu hari seorang produser berkata
“Hey, coba ubah chord progression ini jadi versi AI-ambient-nya Brian Eno.”
Dan dalam hitungan detik, mesin melakukannya — bukan menggantikan, tapi menginspirasi.
Itulah visi yang mungkin Universal dan Udio, menjadikan AI bukan lawan, melainkan kolaborator kreatif.
Bayangkan Taylor Swift mengisi vokal pada lagu hasil improvisasi AI yang diciptakan berdasarkan tema “nostalgia di tengah badai digital.” Atau Billie Eilish merilis remix eksperimental yang dihasilkan dari interaksi neural network dan perasaan manusia yang rapuh.
Musik, akhirnya, tidak lagi hanya diciptakan. Ia dihidupkan bersama — oleh jari manusia dan kode komputer yang belajar memahami emosi.
Sebuah Langkah Menuju Masa Depan Musik
Produk baru Udio ini akan hadir sebagai layanan berlangganan dengan sistem keamanan digital yang ketat, termasuk pemrograman sidik jari audio dan penyaringan otomatis. Tujuannya sederhana: memastikan dunia musik digital tumbuh dalam ruang yang aman, transparan, dan adil bagi semua pihak.
Meski detail keuangan kesepakatan ini tidak diungkap, maknanya jauh lebih besar dari sekadar angka.
Ini adalah deklarasi perdamaian antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan.
Seperti halnya gitar listrik dulu pernah dianggap “iblis” sebelum akhirnya menjadi ikon musik modern, AI kini sedang melalui fase yang sama — dicurigai, ditentang, lalu perlahan diterima sebagai bagian dari evolusi.
Di masa depan, mungkin kita tidak lagi bertanya apakah musik buatan AI punya rasa. Karena rasa itu akan lahir dari kerja sama antara jiwa manusia dan mesin yang belajar memahami keindahan. (*)

