Hai, Versers!

Bayangkan kalau limbah kelapa sawit yang menumpuk bisa disulap jadi bahan bakar bersih dan berdaya jual tinggi. Kedengaran hebat, kan? Nah, di Samarinda, mimpi itu sedang jadi kenyataan berkat tangan-tangan cerdas dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes).

Tim peneliti dari Jurusan Teknik Kimia Polnes, yang dikomandoi oleh Marlinda, baru saja bikin gebrakan yakni mereka berhasil mengonversi limbah kelapa sawit — tepatnya jangkos atau janjang kosong — menjadi biopelet, sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Tim ini tak bekerja sendirian. Ada lima peneliti lain yaitu Andi Lisnawati, Ibnu Eka Rahayu, Fitriyana, Noorma Kurnyawaty, dan Sekar Ayu Setyowati, serta sejumlah mahasiswa yang turut terlibat aktif. Hebat kali, kan Versers?

“Industri kelapa sawit memang penting bagi ekonomi Indonesia, tapi juga menghasilkan limbah besar. Salah satunya jangkos,” ujar Marlinda.

Namun, di balik tumpukan limbah itu, tersimpan potensi besar. “Jangkos dapat dimanfaatkan menjadi biopelet, bahan bakar padat dari biomassa yang bisa menggantikan batu bara atau minyak bumi,” jelasnya lagi. Biopelet ini bisa digunakan untuk pembangkit listrik, industri, bahkan rumah tangga.

Lewat Program Katalisator Kemitraan Berdikari, yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan dikelola oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Polnes menjalankan riset yang bukan sekadar wacana, tapi solusi nyata.

Dalam pelaksanaannya, tim ini berkolaborasi dengan PT Perkebunan Kaltim Utama I. Dari sinilah mereka mendapat pasokan bahan baku jangkos. “Produksi kelapa sawit yang melimpah di Kalimantan Timur menjadi tantangan tersendiri. Kami ingin limbah itu bernilai, bisa dimanfaatkan luas oleh masyarakat,” terang Marlinda.

Prosesnya pun cermat. Jangkos yang diterima dicacah hingga ukurannya seragam sebelum diolah menjadi biopelet. Sisa cacahan yang tak terpakai pun tidak dibuang begitu saja — tapi diolah kembali menjadi pupuk kompos. “Kami mendukung konsep zero waste,” kata Marlinda bangga.

Kini, proses produksi sudah masuk tahap optimalisasi, termasuk menguji variasi komposisi dan perekat alami untuk mendapatkan hasil terbaik.

Menurut Marlinda, biopelet sawit bukan cuma solusi energi alternatif, tapi juga langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca. “Program ini diharapkan bisa mendorong inovasi di daerah serta memberi kontribusi bagi ekonomi nasional,” pungkasnya.

Versers, dari limbah jadi berkah — begitulah semangat tim Polnes Samarinda. Seperti kata orang Melayu, “Bijak memanfaatkan, hidup pun selamat”. (*)

- A word from our sposor -

spot_img

Inovasi Energi Terbarukan, Jangkos Sawit Disulap Jadi Biopelet Bernilai Tinggi