Hei, Versers!

Kisah hidup Gibran Rakabuming Raka bukan sekadar tentang darah presiden yang mengalir di tubuhnya. Ini adalah cerita tentang keberanian seorang anak muda yang menolak hidup di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya, dan memilih menapaki jalannya sendiri — dari dapur martabak hingga ruang rapat kabinet.

Ya, Gibran adalah Wakil Presiden termuda Republik Indonesia, simbol dari generasi baru yang berani menabrak pakem politik lama.

Setelah menempuh pendidikannya, Gibran tak langsung masuk ke politik. Ia memilih jalan berbeda, berbisnis martabak. Pada 2010, lahirlah Markobar (Martabak Kota Baru) — ide kuliner sederhana yang kemudian menjelma jadi fenomena.

Langkah itu seperti pernyataan, bahwa ia ingin dikenal bukan karena siapa ayahnya, tapi karena apa yang ia ciptakan. Dari sini Gibran seperti menunjukkan karakter wirausahawan muda yang adaptif, inovatif, dan pekerja keras.

Tak berhenti di Markobar, ia juga menggagas berbagai bisnis yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan, menandai arah pikirannya yang jauh dari sekadar mengejar profit.

Menyeberang ke Dunia Politik

Namun hidup Gibran ternyata punya babak baru. Tahun 2020, ia mengumumkan pencalonan dirinya sebagai Wali Kota Solo. Langkah ini sempat memicu pro dan kontra — sebagian menganggapnya terlalu cepat, sebagian lain melihat ini sebagai kesinambungan gaya kepemimpinan ala Jokowi.

Tapi Gibran menjawab semua keraguan dengan hasil, menang telak dalam Pilkada Solo dan langsung tancap gas bekerja. Sebagai wali kota, ia fokus pada inovasi ekonomi lokal, infrastruktur, dan pemberdayaan UMKM, menghadirkan gaya kepemimpinan yang tegas namun tetap down to earth.

Dari situ, publik mulai melihat, Gibran bukan hanya simbol politik, tapi aktualisasi generasi baru birokrat yang paham data, teknologi, dan tren sosial.

Naik ke Panggung Nasional: Wakil Presiden Termuda

Puncak perjalanan itu tiba di 2024, ketika Gibran maju sebagai calon Wakil Presiden Republik Indonesia. Diusung koalisi besar dan didukung langsung oleh Presiden Joko Widodo, Gibran menjadi pasangan muda dalam pemilihan yang menentukan arah Indonesia di era digital.

Tepat diusia ke-37 tahun 19 hari akhirnya resmi dilantik. Ia pun mencetak sejarah sebagai wakil presiden termuda dalam sejarah Indonesia.

Kemenangan ini bukan sekadar catatan biografis. Ini adalah simbol transisi generasi, di mana kaum muda tak lagi hanya menjadi penonton, tapi bisa ikut duduk di meja pembuat kebijakan.

Pemimpin Muda, Perspektif Baru

Gibran membawa mentalitas pengusaha ke dalam politik, kecenderungannya cepat mengambil keputusan, efisien, dan fokus pada hasil. Ia mungkin percaya bahwa pemerintahan harus dikelola layaknya perusahaan sosial besar, dengan inovasi, transparansi, dan keberanian untuk bereksperimen.

Dalam jurnal riset Journal of Political Economy (2024) disebutkan:

“Pemimpin muda yang memiliki latar belakang bisnis seperti Gibran Rakabuming Raka mampu membawa pendekatan yang lebih pragmatis dalam kebijakan publik yang sangat relevan dengan tantangan global saat ini.”
(Journal of Political Economy, 2024)

Pendekatan pragmatis inilah yang membuat Gibran dianggap cocok menghadapi tantangan baru — mulai dari disrupsi digital, ekonomi kreatif, hingga partisipasi politik generasi muda.

Makna untuk Generasi Milenial dan Z

Versers, di tengah banyaknya sinisme terhadap politik, Gibran muncul sebagai bukti bahwa idealisme bisa hidup berdampingan dengan ambisi.
Ia tidak hanya menjadi contoh “anak muda yang sukses”, tapi juga “anak muda yang bertanggung jawab pada sejarah”.

Perjalanannya dari pengusaha kuliner ke kursi Wakil Presiden menunjukkan bahwa karier tidak harus linear. Kadang, keberanian untuk menyeberang lintas bidang justru membuka jalan menuju perubahan besar. (*)

- A word from our sposor -

spot_img

Gibran Rakabuming: Kisah Pengusaha Muda yang Jadi Wakil Presiden Termuda Indonesia