Pernah denger tentang suku Orang Balik? Mungkin di telinga kalian, nama ini agak asing, meskipun “Balik” itu sendiri udah melekat sama nama kota besar di Kalimantan, Balikpapan. Nah, ternyata Orang Balik ini punya cerita yang unik dan penuh sejarah. Mereka dikenal sebagai suku yang cenderung pemalu dan lebih suka hidup sederhana tanpa banyak menonjolkan diri. Di tengah gencarnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), keberadaan mereka mulai banyak dibahas.
Melansir dari Antara, menurut Sabardin, tokoh di Forum Kesepakatan Masyarakat Sepaku (FKMS) dan keponakan dari Kepala Adat Orang Balik, Sibukdin, orang-orang Balik memang bukan tipe yang suka menonjolkan diri. “Kami memang pemalu, dan tidak suka konflik,” kata Sabardin.
Beda banget dengan suku-suku lainnya di Kalimantan Timur yang terkenal dengan budaya keseniannya seperti Orang Kutai, Orang Kenyah, dan Orang Bahau yang lebih terbuka menampilkan tarian, anyaman, dan ritual budaya mereka.
Sejarah suku Balik dimulai di Tanjung Gonggot, yang sekarang menjadi bagian dari Balikpapan. Mereka hidup dari alam, berburu, menangkap ikan, dan berinteraksi dengan Kerajaan Kutai serta Kesultanan Paser. Pada abad ke-18, suku ini bahkan ikut ambil bagian dalam pembangunan Kerajaan Kutai, dengan beberapa tokoh adat mereka diangkat sebagai pejabat wilayah.
Namun, ketika Belanda mulai menaruh minat pada Balikpapan pada akhir abad ke-19, kehidupan Orang Balik terancam berubah. Ekspansi industri minyak membuat mereka terdesak. Mereka pun berpindah melalui jalur laut, melintasi Teluk Balikpapan dan memasuki Sungai Sepaku, tempat mereka menetap hingga sekarang. Mereka menyebut tempat ini sebagai Benuo Sepaku, yang mencakup beberapa desa dan kelurahan, seperti Sepaku, Karang Jinawi, dan Bukit Raya.
Namun, kehidupan mereka di Sepaku tak selalu damai. Pada tahun 1920, wabah delanan melanda, menyebabkan kematian massal di komunitas Orang Balik. Setiap hari, puluhan orang meninggal akibat wabah ini, yang dipercaya sebagai hukuman leluhur mereka karena pelanggaran dalam ritual adat. Meski tak ada bukti ilmiah, kejadian ini menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah mereka.
Setelah wabah mereda, Orang Balik kembali melanjutkan kehidupan mereka dengan cara yang sangat dekat dengan alam. Mereka bertani padi ladang dan memanfaatkan hasil alam sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi sejarah kelam tak berhenti sampai di situ. Pada masa penjajahan Jepang, Orang Balik juga mengalami penderitaan. Sementara Belanda memaksa mereka bekerja paksa, Jepang memilih untuk mendatangkan tenaga kerja dari luar, dan Orang Balik bisa menghindari romusha yang dialami suku lainnya.
Namun, setelah Indonesia merdeka, konflik kembali muncul. Pada 1958-1959, kelompok bersenjata yang mengaku bagian dari Kesatuan Rakyat yang Tertindas mengganggu ketenangan di Sepaku. Mereka menekan Orang Balik, yang lagi-lagi terpaksa melarikan diri untuk mencari tempat aman. Sepaku sempat kosong dalam waktu lama, dan hanya sebagian dari mereka yang kembali setelah situasi membaik.
Masyarakat Orang Balik memang lebih suka hidup sederhana dan jauh dari konflik, tetapi perjuangan mereka untuk bertahan hidup, menjaga tanah dan tradisi mereka, tetap menjadi bagian penting dari sejarah Kalimantan. Kini, di tengah perhatian terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara, kisah mereka mulai terungkap kembali. Mereka bukan hanya pemalu, tetapi juga memiliki sejarah yang kaya dan penuh warna. Orang Balik mungkin tak banyak bicara, tapi sejarah mereka berkata banyak.
Jadi, Versers, yuk kita lebih mengenal dan menghargai komunitas-komunitas adat yang ada di sekitar kita. Mereka punya cerita yang layak didengar dan dihargai. (*)

