Kalau kalian sering jalan-jalan di Kalimantan—dari Berau sampai Banjarbaru—nama satu tokoh ini pasti sering muncul. dr. Murdjani. Ada Jalan Dr. Murjani di Berau, ada RSUD dr. Murjani di Sampit, dan ada pula Lapangan dr. Murdjani yang jadi alun-alun kebanggaannya urang Banjarbaru.
Lalu muncul pertanyaan begini, sebegitu pentingkah beliau sampai namanya menempel di mana-mana?
So pasti jawabannya, ya iya lah, sepenting itu.
Dokter STOVIA yang Jadi Gubernur di Tiga Provinsi
dr. Murdjani adalah lulusan STOVIA tahun 1932, sekolah kedokteran tertua di Nusantara. Tapi kisah hidupnya tidak berhenti di meja operasi. Kariernya justru meroket ke dunia pemerintahan.
Beliau pernah menjabat sebagai:
• Gubernur Jawa Barat ketiga
• Gubernur Jawa Timur (1947–1949)
• Gubernur Kalimantan kedua (1950–1953)
Meski menjabat Gubernur Kalimantan kurang dari setahun, jejak pemikirannya jauh lebih panjang daripada masa kerjanya.
Gunung Apam: Cikal Bakal Banjarbaru
Pada awal 1950-an, kondisi lingkungan Banjarmasin dianggap kurang sehat sebagai lokasi ibukota provinsi. Sebagai dokter, Murdjani paham betul bahwa kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi kualitas lingkungan.
Karena itu ia mengusulkan pemindahan pusat pemerintahan ke dataran yang lebih sehat: Gunung Apam, yang kemudian tumbuh menjadi Banjarbaru.
“Nama Banjarbaru sedianya hanyalah nama sementara yang diberikan Gubernur dr. Murdjani untuk membedakan dengan Kota Banjarmasin, yaitu kota baru di Banjar,” dikutip dari arsip sejarah Pemerintah Kota Banjarbaru.
Usulan berani ini bukan sekadar ide, tapi visi jangka panjang untuk membangun kota yang lebih layak sebagai pusat administrasi.
Dibantu Perencana Van der Pijl
Gagasan itu makin matang ketika ia menggandeng Van der Pijl, seorang ahli perencana tata kota. Bersama-sama mereka merancang Banjarbaru sebagai calon Ibukota Provinsi Kalimantan.
Rancangan sudah disusun, arah sudah ditentukan. Tapi perjalanan sejarah tak selalu mulus—proyek ambisius itu terhenti ketika Banjarbaru akhirnya hanya menjadi Kota Administratif, bukan ibukota.
Pro-Kontra dan Perjuangan yang Tidak Padam
Langkah pemindahan ibukota memicu pro dan kontra. Sebagian menilai Banjarmasin sudah mapan sebagai pusat ekonomi. Sebagian lain melihat Banjarbaru sebagai masa depan.
Namun perjuangan dr. Murdjani tidak terputus. Gubernur Kalimantan berikutnya, Raden Tumenggung Arya Milono (1953–1957), melanjutkan upaya besar itu.
Meski berganti era, berganti pemimpin, dan berganti kebijakan, ide dr. Murdjani tetap hidup.

Akhirnya Resmi Lewat UU Nomor 8 Tahun 2022
Setelah puluhan tahun wacana itu berputar dari masa ke masa, akhirnya sejarah memihak Banjarbaru.
“Ibu Kota Kalimantan Selatan berkedudukan di Kota Banjarbaru,” dikutip dari UU Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2022.
Dengan demikian, gagasan dr. Murdjani—yang disampaikan lebih dari 70 tahun lalu—akhirnya menjadi kenyataan.
Warisan yang Melewati Generasi
Jadi, mengapa namanya terkenal di seluruh Kalimantan? Karena beliau bukan hanya dokter, bukan hanya gubernur, tapi seorang visioner yang membentuk arah sejarah. Kota Banjarbaru yang hari ini kita kenal dan banggakan, adalah buah dari keberaniannya melihat masa depan ketika orang lain masih terpaku pada masa kini.
Tidak heran namanya diabadikan dalam jalan, rumah sakit, hingga alun-alun besar—sebagai penghormatan pada karya besar yang meninggalkan jejak panjang bagi Bumi Kalimantan. (*)

