Hai, Versers!

Pengen tau kisah perjalanan inspiratif ala Irvan Faros Ash Siddiq, putra buruh dari Samarinda yang wujudkan mimpi almarhum ibunda lewat beasiswa IISMAVO 2024 ke Glasgow. Yuk simak kisahnya Versers.

Mimpi Seorang Ibu dan Anak dari Samarinda

Di sebuah rumah sederhana di Samarinda, mimpi besar pernah tumbuh dari doa seorang ibu. Eva Rahayu, ibu rumah tangga biasa, selalu berbisik lirih kepada anak sulungnya, Irvan Faros Ash Siddiq, agar suatu hari ia bisa kuliah di luar negeri.

Ayahnya, Jafar Siddiq, hanya seorang buruh harian lepas. Hidup mereka bukan kisah tentang kelimpahan, melainkan perjuangan dalam keterbatasan. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan cita-cita yang melampaui batas ruang dan keadaan.

Irvan tumbuh dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Sejak kecil, ia belajar bahwa mimpi besar tak selalu butuh latar belakang besar — cukup tekad dan kerja keras. Saat program Indonesian International Student Mobility Awards Vocation (IISMAVO) 2023 dibuka, matanya berbinar. “Mungkin ini jalan untuk mewujudkan mimpi ibu,” batinnya.

Luka di Tengah Perjuangan

Perjuangan Irvan untuk lolos beasiswa IISMAVO bukan hal mudah. Ia harus melewati serangkaian tes mulai dari TOEIC, menulis esai, hingga wawancara. Namun di tengah penantian hasil, badai datang menghantam: sang ibunda tercinta meninggal dunia akibat kanker pada Desember 2023.

“Saya bahkan sempat memutuskan untuk berhenti ikut semua proses program beasiswa IISMA,” kenangnya lirih.

Dunia Irvan seolah runtuh. Dalam sekejap, harapan itu seperti ikut terkubur bersama ibunya. Tapi di saat duka paling dalam, tangan-tangan tulus dari kampusnya, Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), terulur menguatkan. Para dosen dan sahabatnya datang bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga tindakan nyata. Mereka menyemangatinya untuk tetap melanjutkan proses seleksi.

Dan keajaiban pun datang.
Irvan dinyatakan lolos. Ia menjadi salah satu mahasiswa Indonesia yang berhak kuliah satu semester di City of Glasgow College, Skotlandia, lewat program IISMAVO 2024.

Tangan yang Gemetar Saat Uang 3 Digit Masuk Rekening

Namun perjuangan tak berhenti di situ. Ketika pengumuman kelulusan tiba, masalah lain muncul: Irvan tak punya uang untuk membuat paspor. Ayahnya yang bekerja serabutan, tentu tak sanggup menanggung biaya itu.

Beruntung, para dosen di Prodi D4 Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Polnes kembali turun tangan. Mereka mengumpulkan biaya untuk membantu pembuatan paspor, SKCK, hingga surat kesehatan. Bahkan, Direktur Polnes Ahyar Muhammad Diah memberikan kebijakan khusus agar seluruh mahasiswa penerima beasiswa IISMAVO mendapat bantuan tiket pesawat dan dokumen keberangkatan.

“Teman-teman banyak bantu saya sampai jam 5 sore untuk mendapatkan tandatangan Direktur. Termasuk pak Fauzan,” tutur Irvan mengenang.

Ketika uang beasiswa akhirnya masuk rekening, Irvan hanya bisa terdiam lama. “Uangnya 3 digit. Tangan saya sampai bergetar,” ucapnya haru.

Itulah pertama kalinya ia menerima uang sebesar itu. Bukan sekadar nominal, tapi simbol dari kerja keras, doa, dan keajaiban hidup.

Glasgow, Titik Balik Seorang Anak Buruh

Agustus 2024 menjadi titik balik kehidupan Irvan. Ia terbang ke City of Glasgow College untuk menjalani program IISMAVO selama satu semester.

Di negeri jauh itu, Irvan merasakan dunia yang benar-benar berbeda. Ia belajar banyak hal: kedisiplinan, kolaborasi lintas budaya, dan pentingnya saling memahami dalam perbedaan.

“Saya merasakan betapa pentingnya komunikasi serta pengertian terhadap sesama pada metode pembelajaran ini, karena kami semua berasal dari latar belakang yang berbeda-beda,” ujarnya.

Air Mata dan Beasiswa Perjalanan Inspiratif Mahasiswa Samarinda Kuliah ke Inggris
Irvan Faros Ash Siddiq. (FOTO: Dok. Pribadi)

Ia juga terlibat dalam project DEMOLA, sebuah platform kolaboratif antar mahasiswa dari berbagai negara. Selain itu, ia menghadiri Scottish Night — perayaan budaya lokal yang mengenalkan makanan, tarian, dan musik khas Skotlandia.
Di tengah semua pengalaman itu, Irvan tumbuh bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi juga manusia yang matang secara jiwa. “Saya merasakan pertumbuhan ke arah yang lebih baik dari dalam diri,” katanya.

Sosok di Balik Keberhasilan

Di balik kisah sukses Irvan, ada sosok Muhammad Fauzan Noor, Koordinator Prodi D4 UPW, yang diam-diam menjadi ayah kedua bagi banyak mahasiswanya.
Sejak 2002, pria bergelar SE., M.Par., MMHTRL ini bukan hanya mengajar, tapi juga menampung curhat, memberi pinjaman, bahkan menanggung kebutuhan hidup mahasiswa yang kesulitan ekonomi.

“Saya meyakinkan diri untuk meminimalisir mahasiswa kami yang DO hanya gara-gara uang untuk kebutuhan hidup. Hingga saat ini, tidak terhitung lagi sudah berapa piutang yang ada pada mahasiswa. Tapi saya yakin mereka akan membayarnya kembali,” tuturnya dengan senyum ringan.

Air Mata dan Beasiswa Perjalanan Inspiratif Mahasiswa Samarinda Kuliah ke Inggris
Muhammad Fauzan Noor saat berada di Perancis. (FOTO: Instagram @fauzan_polnes)

Fauzan tahu betul bahwa dunia luar berkembang pesat, dan mahasiswa harus siap beradaptasi. Ia mendorong mereka mengikuti program luar negeri agar memiliki perspektif baru. “Kalau soal biaya, kalau dipikirkan melulu, tidak akan ada habisnya. Jalani saja dulu,” ujarnya mantap.

Mimpi yang Kini Terwujud

Kini, Irvan tak sekadar menjadi mahasiswa penerima beasiswa. Ia adalah simbol dari kekuatan mimpi, cinta seorang ibu, dan dukungan tanpa pamrih dari para pendidik.
Setiap langkahnya di Glasgow adalah langkah ibunya yang tak sempat melihatnya berangkat.
Setiap senyum keberhasilannya adalah doa yang tak pernah padam.

“Saya merasa mereka seperti keluarga. Mereka selalu mendukung saat saya sedang tidak baik-baik saja,” tutup Irvan dengan mata berkaca-kaca. (*)

- A word from our sposor -

spot_img

Air Mata dan Beasiswa: Perjalanan Inspiratif Mahasiswa Samarinda Kuliah ke City of Glasgow College